Investigasi Tempo dan Amnesty International: Produk Spyware Israel Dijual ke Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta – Sejumlah besar produk spyware A pengawasan Israel yang sangat invasif mengimpor dan menyebarkannya di Indonesia, kata laboratorium keamanan Amnesty International ketika mereka merilis laporan investigasi terbaru bekerja sama dengan mitra media – Tempo, Haaretz, Kisah Dalam, Kelompok riset WAV dan Woz.

Dalam pernyataan yang disiarkan pada Kamis 2 Mei 2024, Amnesty mengatakan melalui intelijen open source, termasuk database bisnis komersial dan pemetaan infrastruktur. spywareSecurity Lab menemukan bukti penjualan dan distribusi spyware yang sangat invasif dan teknologi pengawasan lainnya kepada perusahaan dan lembaga pemerintah di Indonesia antara tahun 2017 dan 2023.

Entitas tersebut antara lain Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Badan Pelayanan Siber dan Sandi Negara. Polri dan BSSN tidak menanggapi surat permintaan wawancara Tempo hingga Jumat, 3 Mei 2024.

Hasil pemberitaan investigatif secara lengkap akan dimuat di Majalah Tempo yang dirilis pada Minggu 5 Mei 2024 untuk edisi digital, sedangkan edisi cetak dirilis pada Senin 6 Mei 2024.

Penjualan dan transfer teknologi spyware A pengawasan hal ini dimungkinkan oleh ekosistem dealer pengawas, pialang, dan dealer dengan struktur kepemilikan yang kompleks.
Vendor yang teridentifikasi termasuk Q Cyber​​​​​​​​​Technologies SARL yang berbasis di Luksemburg (terkait dengan NSO Group), konsorsium Israel Intellexa, Wintego Systems Ltd dan Saito Tech (juga dikenal sebagai Candiru) dan Raedarius M8 Sdn Bhd yang berbasis di Malaysia (terkait dengan FinFisher).

Investigasi juga menemukan makelar A penjual berbasis di Singapura dan Indonesia.

Disengaja atau tidak, jaringan perusahaan yang tidak transparan dan tidak transparan ini dapat menyembunyikan sifat pengendalian ekspor, sehingga menjadikan pengawasan independen sebagai tantangan bagi otoritas peradilan nasional dan internasional, serta regulator dan organisasi masyarakat sipil.

Lab Keamanan juga mengidentifikasi nama domain berbahaya dan infrastruktur jaringan yang terkait dengan beberapa platform spyware Kecanggihan teknologi yang tampaknya menyasar individu di Indonesia diungkap Transparansi.

“Domain berbahaya yang dikaitkan dengan spyware “Candiru dan Predator Intellexa menyamar sebagai media arus utama nasional dan regional, partai politik oposisi, dan media berita terkait dengan pendokumentasian pelanggaran hak asasi manusia,” kata badan internasional tersebut dalam sebuah pernyataan.

Periklanan

Situs serangan seperti ini biasanya dipilih oleh operator spyware mengelabui target yang dituju agar mengklik, membuat perangkat berpotensi terkena virus. Dari sana, penginstal dapat mengumpulkan informasi dari individu atau pengguna perangkat tertentu.

Pengawasan adalah tindakan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari individu atau pengguna perangkat tertentu menguping Dia tindakan mencegat dan mengubah jalur komunikasi secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengguna perangkat. Tindakan ini memungkinkan akses ilegal ke data rahasia

Atau dengan senjata siber A perangkat lunak perusak, yakni alat dan perangkat lunak untuk menyusup ke perangkat digital seseorang guna menyedot seluruh data aktivitas perangkat digital tersebut. Baik menggunakan metode satu klik atau tanpa klik.

Meskipun Amnesty menemukan bukti baru yang signifikan mengenai spyware dan sistem pengawasan yang dipasok ke Indonesia, penelitian ini tidak melibatkan penyelidikan forensik atau upaya untuk mengidentifikasi individu tertentu yang mungkin menjadi sasaran alat pengawasan tersebut.

Alat spyware Alat yang sangat invasif ini dirancang untuk meninggalkan jejak sesedikit mungkin, sehingga sangat sulit untuk mendeteksi kasus penyalahgunaan alat ini secara ilegal. Sebaliknya, penelitian ini berfokus pada penjualan dan transfer beberapa alat spyware yang sangat invasif.

Lab Keamanan Amnesty International mengatakan pihaknya telah meminta tanggapan dan klarifikasi atas temuan penyelidikan dari 21 entitas yang dirujuk dalam penyelidikan tersebut.

Menurut Amnesty International, penyalahgunaan teknologi pengawasan, serta penggunaan teknologi yang tidak sesuai dengan hak asasi manusia, misalnya. spywareadalah beberapa dari sekian banyak taktik yang digunakan di seluruh dunia untuk mempersempit ruang sipil.

Pilihan Editor Kasus Bea Cukai: Setelah Didenda untuk Sepatu Adidas, Tas Hermes Kini Robek



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *